Langsung ke konten utama

Postingan

Merindu

Aku Seperti daun kering yang menjatuhkan dirinya ke bumi Terhempas mengikuti aliran angin Terbawa hingga jauh Berpisah dengan sanak dedaunan yang tertinggal Tersesat di belantara tak tersentuh Rasa asing mengerubungi Dingin. Sepi. Sendiri. Ingin kembali Namun Angin tak jua datang tuk membawa lagi Jatinangor, April 2017
Postingan terbaru

Hanya Aku

Oleh Ridne Adia Rasaku padamu bertumbuh seiring bergilirnya waktu Bagai kuncup mawar yang kian hari kian merekah Tapi Hanya aku Yang memendam benih perasaan ini begitu dalam Dan senantiasa memupuknya dengan kekaguman akan karismamu Memperhatikan tiap tingkahmu tlah menjadi kebiasaanku Mendambamu seakan menjadi keahlian bagiku Namun Aku bukan petani Yang mau bersabar menantikan hasil panennya Aku hanya manusia rata-rata Dengan tingkat kesabaran yang berbatas Aku mulai mengerti Bahwa selama ini, Suaraku tak terdengar olehmu Bayanganku pun tak terlihat di sudut pandangmu Kini Perlahan ku akan menjauh Memudarkan segala hal tentangmu Jatinangor, November 2016

Perjumpaan Rindu dalam Angan

Oleh Ridne Adia Berjalan ku menuju kehidupan baru Terseok jalan nan terjal tak beriba Kaki mungil tak beralas ini pun terluka Arahku tak bertuju Berbelok, menemui rintangan Memutar, kembali ke masa lalu Menanjak, menguras kekuatan raga juga sukma Dan berakhirku di kebuntuan Dilema akan segala kemungkinan Menanti tangan untuk kugapai Menuntun ke akhir perbatasan Surga-Nya menunggu di ujung jalan Pertemuanku denganmu ada dalam rencana-Nya Kini aku berusaha Memperelok akhlak serta jiwaku Memantaskan diri tuk bersanding denganmu, Wahai calon lelakiku

(Masih) Berkubang dalam Kesedihan

Oleh R. A. Duniaku membeku  Semesta seakan pergi meninggalkanku  Anganku menjauh ke batas yang tak bisa ku raih  Alasan hidupku t’lah mati  Kekecewaan membuatku jatuh  Ke titik gelap ruang tak berujung  Seringnya ku menangis tanpa air mata  Sekuat tenaga ku menjerit tanpa suara  Dan yang mereka lihat,  senyum bahagiaku  Aku sendirian

Memori Beku di Ujung Perjumpaan

Oleh R. A. Untuk kesekian kalinya, Aku melihat sosok itu Gadis muda bermata sipit nan sendu Dia tengah mengusap liur lelaki yang tengah rebah di pembaringan, di sudut sebuah gubuk kayu Sorot mata lelaki itu kosong Seolah hanya dua bola mata tergeletak di wajahnya yang pasi Ekspresinya tak sedikitpun menampakkan kehidupan Gadis itu membacakan sebuah kitab Suaranya terdengar akrab di gendang telingaku Ia melagukan kalimat-kalimat lirih nan syahdu Lelaki itu perlahan terpejam Meresapi setiap ucapan gadis itu Namun kemudian, nafasnya tersengal memanggil gadis bermata sipit Gadis itu berbisik seraya menggenggam tangan si lelaki Dia melafalkan kalimat yang tak asing bagiku Nafas lelaki itu mulai mereda Dan akhirnya… Hilang! Seketika, aku tersadar dari imaji Gadis bermata sipit nan sendu itu ternyata adalah, Aku Jatuhlah sudah air mata yang lama tertahan Kekecewaan ini menghantuiku lagi Maaf… Aku tak berada di sampingmu,...