Langsung ke konten utama

Memori Beku di Ujung Perjumpaan


Oleh R. A.

Untuk kesekian kalinya,
Aku melihat sosok itu
Gadis muda bermata sipit nan sendu
Dia tengah mengusap liur lelaki yang tengah rebah di pembaringan,
di sudut sebuah gubuk kayu

Sorot mata lelaki itu kosong
Seolah hanya dua bola mata tergeletak di wajahnya yang pasi
Ekspresinya tak sedikitpun menampakkan kehidupan

Gadis itu membacakan sebuah kitab
Suaranya terdengar akrab di gendang telingaku
Ia melagukan kalimat-kalimat lirih nan syahdu
Lelaki itu perlahan terpejam
Meresapi setiap ucapan gadis itu

Namun kemudian,
nafasnya tersengal memanggil gadis bermata sipit
Gadis itu berbisik seraya menggenggam tangan si lelaki

Dia melafalkan kalimat yang tak asing bagiku
Nafas lelaki itu mulai mereda
Dan akhirnya…
Hilang!

Seketika, aku tersadar dari imaji
Gadis bermata sipit nan sendu itu ternyata adalah,
Aku

Jatuhlah sudah air mata yang lama tertahan
Kekecewaan ini menghantuiku lagi

Maaf…
Aku tak berada di sampingmu,
ketika kau pulang ke rumah abadi kita
Tunggu hingga semua ini berakhir,
kelak kita kan berjumpa di sana, Ayah




Komentar